KURIKULUM NASIONAL KEPELATIHAN BOLA BASKET

Pengantar
Dengan semakin berkembangnya dunia bolabasket di Indonesia, para pelatih sebagai salah satu komponen penting di dalamnya perlu dipersiapkan dan diperlengkapi lebih baik sehingga pada akhirnya dapat berperan besar terutama dalam proses pembinaan pemain yang akan berdampak langsung pada pencapaian prestasi bolabasket nasional.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Bidang Sumber Daya Manusia PP PERBASI periode 2010-2014 menyusun sebuah Kurikulum Nasional untuk Kepelatihan Bolabasket dengan tujuan dapat menjadi sebuah standar baku bagi semua kegiatan Penataran Pelatih Bolabasket di seluruh Indonesia.
Dengan adanya kurikulum ini, diharapkan seluruh pelatih dari berbagai daerah di Indonesia memiliki pemahaman dan persepsi yang sama tentang cetak biru proses penempaan seorang pemain bolabasket sehingga pada saatnya nanti akan bermunculan banyak sumber daya pemain yang memiliki standar minimal teknik fundamental yang baik dan pengertian terhadap permainan bolabasket yang memadai untuk dibentuk pada tingkat yang lebih lanjut.

Lisensi C (Muda)
Pemegang Lisensi C adalah para pelatih yang berkecimpung di tingkat Kelompok Usia maksimal 18 tahun sehingga mereka merupakan para pelatih yang memiliki tugas berat untuk mengenalkan dunia bolabasket kepada para pemain yang baru pertama kali atau belum lama terjun di dalamnya dan mengajarkan teknik-teknik dasar yang benar untuk bermain bolabasket.
Berikut Kurikulum Kepelatihan Lisensi C (Muda):


TUJUAN:

  1. Mengenalkan olahraga bolabasket kepada para pemain muda dengan cara yang menyenangkan dan konstruktif dimana 'kemenangan bukanlah segalanya'. Lebih dari itu, pelatih harus dapat menanamkan kecintaan kepada olahraga bolabasket kepada para pemainnya.
  2. Mengajarkan teknik-teknik fundamental bolabasket dengan penekanan pada eksekusi teknik yang benar dan detail pelaksanaan yang rinci disertai dengan repetisi yang cukup sampai para pemain menjadi otomatis dalam melakukan teknik tersebut.
  3. Memberikan pendidikan karakter yang diperlukan bagi para pemain untuk dapat sukses dalam bolabasket dan juga kehidupan berupa nilai-nilai seperti kerja keras, disiplin, tanggung jawab, kerja sama tim, respek, kepercayaan, persahabatan, dan kepedulian. 
UNIT 1: PENGENALAN OLAHRAGA BOLABASKET
  1. Sejarah Olahraga Bolabasket. Asal mula dan latar belakang olahraga bolabasket diciptakan, perkembangan olahraga bolabasket dari awal sampai saat ini, dan hal-hal menarik serta terobosan yang telah dilakukan dalam perjalanan olahraga bolabasket.
  2. Organisasi dalam Olahraga Bolabasket. Pengenalan terhadap induk organisasi bolasket, struktur organisasinya, dan tanggung jawab pembinaannya mulai dari tingkat dunia (FIBA), zona (FIBA ASIA), sub zona (SEABA), nasional (PP PERBASI), daerah (Pengprov), dan cabang (Pengkot/Pengkab).
  3. Peraturan Permainan Bolabasket.
    Para pelatih telah membaca dan mengerti secara umum seluruh artikel dalam FIBA Official Basketball Rules terbaru sehingga dapat menjelaskan kepada para pemainnya hal-hal apa yang dibolehkan dan dilarang dalam olahraga bolabasket, terutama yang berkaitan dengan masalah teknik fundamental.
UNIT 2: KEPELATIHAN BOLABASKET
  1. Filosofi Kepelatihan. Membahas apa saja peran dari seorang pelatih (perencana, trainer, humas, motivator, organisator, guru, pembelajar, penegak disiplin, tema, pencari dana, pemimpin), berbagai gaya melatih yang berbeda (authoritarian, business-like, nice guy, intense, easy going, kombinasi), dan filosofi yang mendasari seorang pelatih dalam melatih timnya.
  2. Metode Pengajaran dan Komunikasi. Mengetahui hal-hal yang memengaruhi proses pembelajaran (lingkungan, persiapan, motivasi, alat bantu), cara berkomunikasi yang efektif, dan cara penyampaian materi latihan yang tepat.
  3. Perencanaan Program Bolabasket. Menjelaskan langkah-langkah untuk merencanakan sebuah program bolabasket mulai dari penetapan target dengan jangka waktu sampai dengan penyusunan materi sesi latihan.
  4. Manajemen Sesi Latihan dan Pertandingan Membahas mengenai pengaturan sebuah sesi latihan yang dapat memberikan dampak optimal kepada para pemain termasuk rangkaian proses dari sebuah sesi latihan yang akan memacu pemain untuk semakin berkembang.
Ingat, “perfect practice makes perfect”.
Pendekatan dalam memimpin tim menghadapi sebuah pertandingan, mulai dari persiapan pada hari pertandingan, hal-hal yang harus dilakukan oleh masing-masing personel tim, aturan tim saat bertanding, pre game, half time, post game talk, kapan melakukan penggantian pemain dan time out, relasi pelatih dengan wasit dan personel tim lawan, serta membawa tim melewati sebuah kemenangan atau kekalahan.


BACA SELENGKAPNYA>>>>>

TIPE-TIPE SEORANG PELATIH

Ada banyak hal yang dilakukan untuk menjadi pelatih yang sukses. Ada beberapa hal yang bisa dikontrol dan ada yang tidak, seperti seringnya kesuksesan pelatih dihubungkan dengan rekor menang dan kalah dari pelatih tersebut atau jumlah gelar juara yang dimenangkan, akan tetapi ada hal lain yang juga bisa di hubungkan dengan kesuksesan seorang pelatih (coach), seperti pesatnya perkembangan pemain, kemampuan tim, meningkatnya presentase menang – kalah dalam kompetisi . sebenarnya kunci kesuksesan berasal dari kerja keras, goal setting (penentuan tujuan) dan perencanaan. Akan tetapi kita sebaiknya tidak berpikir halnya ingin sukses tetapi cenderung bagaimana membuat sebuah persiapan yang matang agar terjadi kesuksesan
  • Tugas utama Pelatih adalah membantu atlit untuk meningkatkan kemampuan dan mencapai prestasi atlit
  • Maka didalamnya ada hubungan timbal balik antara pelatih dan atlit, yang diharapkan adanya kecocokan dan kerjasama untuk mencapai prestasi.
  • Didalam kenyataannya pelatih menawarkan waktu dan pengetahuannya kepada atlit, sedangkan atlit mempunyai keinginan dan bakat yang dimiliki
TIPE – TIPE PELATIH
1. Pelatih yang Otoriter (Dominating Coach)
  • Ini adalah tipe pelatih yang paling umum, utamanya pada olahraga beregu, seperti bolabasket. Karakteristik yang menonjol adalah disiplin dan agresif. Pelatih ini akan selalu terjebak dalam situasi “Do or Die” (memaksakan kehendak), akan tetapi dapat menumbuhkan perhatian atlit dalam berlatih. Tipe ini biasanya terorganisasi dan terencana dengan baik, menuntut perhatian penuh dari atlit dan diwarnai adanya hukuman-hukuman dalam menegakkan disiplin yang diterapkan.
  • Keuntungan : Suasana yang disiplin sangat mendukung pencapaian prestasi dan menimbulkan dedikasi untuk mencapai tujuan
  • Kerugian : Sensitif dan rentan konflik, apalagi jika terjadi kekalahan beruntun.
2. Pelatih yang Demokratis (Personable Coach)
  • Ini adalah tipe pelatih yang “Nice Guy” yang disenangi seluruh anggota tim dikarenakan fleksibel dan kreatif dalam pendekatan kepada atlit dan penuh perhatian dengan menganggap atlit sebagai individu yang berberbeda dalam perlakuannya.
  • Keuntungan : Iklim saling menghormati dan hubungan yang berkualitas yang kadang akan memunculkan hasil di luar dugaan. Setiap orang yang termasuk dalam tim sangat menikmati peran dan sumbangannya terhadap tim
  • Kerugian : Fleksibilitas dan keterbukaan pelatih di salahgunakan oleh atlit yang bandel, sehingga hal ini akan nampak berubah menjadi “kelemahan
3. Pelatih yang Santai (Casual Coach)
  • Ini adalah tipe pelatih yang “Easy Going”, nyantai, pasif dan mengurangi keterlibatannya dalam tim. Hal ini akan tercermin dengan tidak adanya komitmen tim. Pelatih ini terbiasa mempersiapkan diri dan segala sesuatunya tidak terencana, sehingga ia hanya berperan sebagai konsultan
  • Keuntungan : Atlit mengembangkan kemandiriannya daripada menunggu dan menguntungkan pelatih. Suasana yang santai menghindari dari suasana yang penuh tekanan
  • Kerugian : Persiapan tim biasanya tidak mencukupi dalam menghadapi even, dikarenakan tidak adanya rencana yang matang, hal yang paling menonjol adalah tingkat kemampuan fisik yang sangat rendah. Efek dari sikap santai ini akan menimbulkan hilangnya kewibawaan seorang pelatih

Indikasi Indikasi Tentang Pelatih yang Baik
  1. Pelatih merupakan suri tauladan dengan penuh kejujuran
  2. Pelatih bisa menjadi “Pengikut” dan “Pendengar” yang baik
  3. Pelatih bisa mendisiplinkan atlit
  4. Pelatih bisa mengoreksi dan mau dikoreksi
  5. Pelatih berfungsi sebagai ahli Psikologi/ Kejiwaan
  6. Pelatih berfungsi sebagai teman dan pembimbing (curhat)
  7. Pelatih berfungsi sebagai pengganti orang tua

KETERAMPILAN DALAM MELATIH
  • KNOWING. (Tingkat pertumbuhan, perkembangan dan keterampilan; Tingkat kemampuan fisik, teknik, taktik dan mental; Teori Kecabangan)
  • ORGANIZING. Otoriter pelatih untuk merencanakan program latihan dalam rangka pengembangan keterampilan
  • OBSERVING. Waktu digunakan untuk mengasah keterampilannya dalam mengamati/mengobservasi latihan yang dilakukan atlit
  • COACHING. Pelatihan yang baik adalah bersifat individu yang mampu menjelaskan, mendemontrasikan, mengoreksi dan memotivasi, memberikan pujian, kritik membangun dan penguatan disaat dibutuhkan

PERHITUNGAN MATEMATIS SEDERHANA PERMAINAN BOLA BASKET

ZONE DEFENSE
  • Lama permainan bola basket 40 menit, apabila dibagi dua (offense dan defense) maka waktu untuk melakukan defense adalah 20 menit
  • Dalam waktu 20 menit, apabila waktu setiap kali melakukan penyerangan adalah 30 detik, maka sebuah tim melakukan 40 kali defense selama permainan ( 1 menit : 30 detik x 20 menit )
  • Dalam 1 kali defense, jika seorang pemain dianggap berlari ke empat arah bolak-balik sebanyak 2 meter, maka dalam 1 kali defense pemain berlari sebanyak (2 x 2 meter) x 4 arah + 28 meter = 44 meter. Jadi setiap pemain dalam satu game berlari sepanjang 44 meter x 40 kali defense = 1760 meter
MAN TO MAN DEFENSE
  • Waktu untuk defense = 20 menit
  • Apabila setiap pemain dianggap berlari ke segala arah (8 arah) bolak-balik sepanjang 9 meter, maka selama 30 detik (1 kali kesempatan offense) setiap pemain berlari sepanjang = 2 x 9 meter x 8 arah + 28 meter = 172 meter, maka selama waktu permainan pemain berlari sepanjang 172 meter x40 defense = 6880 meter
FAST BREAK
  • Jika diasumsikan setiap kali fast break dan second break membutuhkan waktu 10 detik, maka setiap pemain melakukan offense fast break dalam 1 permainan sebanyak 1 menit : 10 detik = 6 dikalikan 20 menit = 120 x penyerangan
  • Jika setiap kali penyerangan pemain berlari sepanjang 28 meter, maka setiap pemain berlari selama 1 permainan adalah 28 meter x 120 fast break = 3360 meter 
SET PLAY
  • Lama permainan bola basket 40 menit, apabila dibagi dua (offense dan defense) maka waktu untuk melakukan defense adalah 20 menit
  • Dalam waktu 20 menit, apabila waktu setiap kali melakukan penyerangan adalah 30 detik, maka sebuah tim melakukan 40 kali defense selama permainan (1 menit : 30 detik x 20 menit )
  • Dalam 1 kali defense,jika seorang pemain dianggap berlari ke empat arah bolak-balik sebanyak 2 meter, maka dalam 1 kali defense pemain berlari sebanyak (2 x 2 meter) x 4 arah + 28 meter = 44 meter. Jadi setiap pemain dalam satu game berlari sepanjang 44 meter x 40 kali defense = 1760 meter.
DEFENSE + OFFENSE
  • Zone marking + set play = 1760 meter + 1760 meter = 3520 meter
  • Zone marking + fast break = 1760 meter + 3360 meter = 5120 meter
  • Man-to-man + set play = 6880 meter + 1760 meter = 8640 meter
  • Man-to-man + fast break = 6880 meter + 3360 meter = 10240 meter

TRANSISI DEFENSE TO OFFENSE

Dalam permainan bolabasket Fast Break menjadi Pilihan Pertama, setelah sebuah tim dapat melakukan defense dengan baik, maka usaha selanjutnya adalah melakukan penyerangan untuk membuat angka. Pada saat sebuah tim dapat menguasai bola setelah usaha penyerangan lawan, baik akibat bola masuk, defensive rebound, atau stealing, intercept, maka pada saat itulah terjadi transisi dari Defense ke Offense

Pada masa transisi itulah yang harus digunakan oleh tim yang menguasai bola harus menggunakan keuntungan untuk membuat angka. Keuntungan akibat hal yang dialami lawan akibat yang dimaksud adalah :
  1. Lawan belum siap untuk melakukan set defense
  2. Tidak semua tim mempersiapkan safety man pada saat terjadi perpindahan penguasaan bola
  3. Pada saat terjadi perpindahan penguasaan bola, biasanya pemain yang sedang melakukan penyerangan sedang membelakangi ring sendiri, sementara pemain yang bertahan biasanya menghadap ring lawan. Secara teori dan fakta, pemain yang berlari lurus ke depan akan lebih cepat dari pemain yang berlari ke belakang/mundur atau pemain yang sedang melakukan penyerangan harus memutar badan untuk berlari dan melakukan defense. Pada saat pemain memutar badan itulah harus di ambil keuntungan walaupun sepersekian detik
  4. Secara naluri pemain tanpa di perintah akan segera berlari cepat untuk melakukan penyerangan apabila salahsatu rekannya dapat menguasai bola, sementara banyak pemain yang harus diperintah / diteriaki untuk segera defense

Dengan adanya beberapa keuntungan yang telah disebutkan di atas maka pada saat itulah tim yang dapat menggunakan keuntungan-keuntungan tersebut dapat membuat angka dengan mudah, yaitu melalui serangan kilat / cepat ( Fast Break )

Keuntungan melakukan Fast Break
  1. Membuat angka lebih cepat
  2. Menghemat energy / tenaga beberapa pemain. Karena biasanya fast break hanya dilakukan oleh 2 atau 3 pemain saja, sementara pemain lawan biasanya semua harus berlari cepat untuk kembali menjaga daerah / ringnya
  3. Dapat merotasi pemain yang melakukan serangan
  4. Lawan tidak dalam keadaan siap untuk melakukan set defense seperti mereka inginkan
  5. Kemungkinan hasil dari fast break adalah membuat angka dengan mudah ( karena tidak ada penjaga ) atau mendapat foul ( free throw )
  6. Jika pemain pertama gagal membuat angka, masih ada pemain kedua yang menyusul / trailing ( biasanya yang melakukan passing terakhir ) untuk membuat angka ( second chance point )  atau jika pemain yang menyusul tidak bisa di passing ( karena mendapatkan penjagaan ) maka pada saat itulah terjadi second break ( karena biasanya lawan terpokus pada bola ataupun pemain yang menyusul tersebut )

Kunci dalam melakuan Fast Break
  1. Tempatkan pemain pada line 1 dan line 5 (kedua sisi lapangan)
  2. Bawa / kirim bola secepatnya ke depan, baik dengan passing atau dribbling, lebih utama jika membawa bola ke salah satu sisi lapangan
  3. Pemain yang berada di belakang pemain yang menguasai bola / trailing (berlawanan sisi dangan pemain yang menguasai bola) biasanya pemain yang melakukan passing terakhir, melakukan cutting untuk meminta bola. Jika ia mendapat bola dapat langsung lay up atau shooting, jika tidak dapat di passing, maka pemain tersebut harus meneruskan pergerakannya da keluar dar daerah ring lawan ( key hole area )
  4. Pemain yang berlawanan dengan bola, setelah pemain yang melakukan cutting pertama, bergerak melakukan cutting. Pemain tersebut boleh berhenti di daerah free throw untuk shooting atau sebagai pengumpan / fooder

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

Gabbard, LeBlanc dan Lovy (1994) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merujuk pada suatu proses mengatur lingkungan belajar. Setiap strategi merupakan gabungan beberapa variable. Variabel yang penting dalam strategi pembelajaran adalah metode penyampaian bahan ajar, pola organisasi yang digunakan guru untuk menyampaikan materi, dan bentuk komunikasi yang dipergunakan. Secara rinci strategi pembelajaran seperti yang dikemukakan di atas dapat diuraikan satu-persatu sebagai berikut.

1. Metode Pembelajaran (Teaching Method)
Menurut Griffin, Mitcheil, dan Oslin (1997); Joyce, Well dan Showers (1992); Magill (1993); Mosston dan Ashworth (1994); Singer dan Dick (1980); metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pengajaran aktivitas jasmani sebanyak tujuh katagori. Ketujuh kategori metode tersebut dirinci sebagai berikut.
  • Pendekatan pengetahuan-keterampilan (knowledge-skill approach) yang memiliki dua metode, yaitu metode ceramah (lecture) dan latihan (drill).
  • Pendekatan sosialisasi (socialization approach) yang berdasarkan pandangan bahwa proses pendidikan harus diarahkan untuk selain meningkatkan keterampilan pribadi dan berkarya, juga keterampilan berinteraksi sosial dan hubungan manusiawi. Pendekatan ini memiliki kelompok metode the social family, the information processing family, the personal family, the havioral system family, dan the professional skills.
  • Pendekatan personalisasi yang berlandaskan atas pemikiran bahwa aktivitas jasmani dapat dipergunakan sebagai media untuk mengembangkan kualitas pribadi, metodenya adalah movement education (problem solving techniques).
  • Pendekatan belajar (learning approach) yang berupaya untuk mempengaruhi kompetensi dan proses belajar anak dengan metode terprogram (programmed instruction), computer assisted instruction (CAI), dan metode kreativitas dan pemecahan masalah (creativity and problem solving).
  • Pendekatan motor learning yang mengajarkan aktivitas jasmani berdasarkan klasifikasi keterampilan dan teori proses informasi yang diterima. Metode yang dikembangkan berdasarkan pendekatan ini adalah part-whole methods, dan modelling (demonstration).
  • Spektrum gaya mengajar yang dikembangkan oleh Muska Mosston. Spektrum dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa pembelajaran merupakan interaksi antara guru-siswa dan pelaksanaan pembagian tanggungjawab. Metode yang ada dalam spectrum berjumlah sebelas, yaitu: (1) komando/command, (2) latihan/practice, (3) resiprokal/reciprocal, (4) uji mandiri/self check, (5) inklusi/inclusion, (6) penemuan terbimbing/guded discovery, (7) penemuan tunggal/convergen discovery, (8) penemuan beragam/divergent production, (9) program individu/individual program, (10) inisiasi siswa/learner initiated, dan (11) pengajaran mandiri/self teaching.
  • Pendekatan taktis permainan (tactical games approaches). Pendekatan yang dikembangkan oleh Universitas Lougborough untuk mengajarkan permainan agar anak memahami manfaat teknik permainan tertentu dengan cara mengenal situasi permainan tertentu terlebih dahulu kepada anak.

2. Pola Organisasi (Organizational Pattern)
Menurut Gabbard, LeBlanc dan Lovy (1994) pola organisasi digunakan untuk mengelompokkan siswa aktivitas jasmani agar metode yang diinginkan dapat dipergunakan. Pola dasar organisasi adalah kelas (classical), kelompok (group) dua atau lebih, dan individu (individual).
Pengajaran kelas menempatkan siswa dalam kelompok besar dan mereka mendapatkan informasi secara klasikal. Guru menyampaikan materi kepada seluruh peserta pada suatu waktu tertentu. Siswa bekerja sebagai satu kesatuan, biasanya dalam bentuk kelompok, untuk menanggapi materi yang disampaikan.

Pengajaran kelompok atau perorangan membagi kelas menjadi beberapa unit (kelompok atau individu) sehingga beberapa kegiatan dapat dikerjakan pada satu satuan waktu tertentu. Penggunaan stasion atau pusat-pusat belajar (learning centers) merupakan bentuk yang populer dan bermanfaat untuk mengakomodasi pola ini. Selain itu, ada beberapa bentuk formasi yang dapat digunakan, yaitu: berjajar, melingkar, setengah lingkaran, dan bergerombol.


3. Bentuk Komunikasi (Communication Mede)
Menurut Gabbard, LeBlanc dan Lovy (1994) bentuk komunikasi adalah bentuk interaksi yang dipilih guru untuk menyampaikan pesan. Pada umumnya, bentuk komunikasi adalah verbal, written, visual, auditory, dan gabungannya. Komunikasi verbal adalah komunikasi lisan melalui kontak pribadi, biasanya antara guru dan siswa dan bentuk ini sering dipergunakan. Komunikasi auditori dipresentasikan dengan menggunakan hasil rekaman atau pita kaset yang menyampaikan gaya presentasi yang dipilih.

Bentuk komunikasi tertulis (written) dan visual merupakan jenis komunikasi yang efektif dan memberikan motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran. Kertas tugas, kartu tugas, poster dapat digunakan secara efektif dalam organisasi kelompok atau individu

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

Guru perlu membedakan antara kegiatan pengajaran dan manajemen kelas. Kegiatan pengajaran meliputi: (1) mendiagnosa kebutuhan kelas, (2) merencanakan dan mempresentasikan informasi, (3) membuat pertanyaan, (4) mengevaluasi kemajuan. Kegiatan manajemen kelas terdiri dari (1) menciptakan dan memelihara kondisi kelas, (2) memberi pujian terhadap perilaku yang baik, dan (3) mengembangkan hubungan guru dengan siswa.
Keterampilan manajemen kelas merupakan hal yang penting dalam pengajaran yang baik. Praktik menajemen kelas yang baik yang dilaksanakan oleh guru akan menghasilkan perkembangan keterampilan-keterampilan manajemen diri siswa yang baik pula. Ketika siswa telaha belajar untuk mengatur diri lebih baik, guru akan lebih mudah berkonsentrasi untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.

Teknik manajemen kelas harus diupayakan agar tidak mengganggu aspek pembelajaran dalam pelajaran. Bila direncanakan dengan baik, pembelajaran akan bergerak dengan cepat dan lancer dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Manajemen kelas yang efektif akan dapat terwujud dengan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Menetapkan aturan kelas
Salah satu bagian penting dalam manajemen kelas adalah penetapan aturan kelas. Siswa adalah insane yang memiliki kebiasaan. Aturan kelas mencakup bagaimana pelajaran dimulai, apa tanda yang dipakai untuk mengumpulkan perhatian siswa, apa yang diharapkan saat siswa mendengarkan dan mengikuti perintah, bekerjasama, saat menggunakan ruangan untuk kegiatan tertentu, dan penggunaan yang lainnya. Aturan perilaku tetap ini harus diketahui oleh siswa pada awal pertemuan.

2. Memulai kegiatan tepat waktu
Pemberian suatu tanda mulai segera dilakukan bila kegiatan sudah siap untuk dilaksanakan. Banyak waktu akan terbuang bila aturan ini tidak ditetapkan. Aba-aba untuk melaksanakan kegiatan jangan sampai membingungkan siswa. Contohnya, jan gan memberikan perintah dengan tanda-tanda yang mirip untuk dua kegiatan yang berbeda.

3. Mengatur pelajaran
Guru harus tetap menjaga kegiatan tetap berlangsung dan tidak terganggu oleh kegiatan yang tak terduga. Pergantian antartopik harus dilakukan oleh guru secara cermat dan penuh kesadaran. Guru perlu memaksimalkan kesempatan keikutsertaan setiap siswa dalam proses pembelajaran. Guru perlu memaksimalkan penggunaan peralatan dan mengorganisasikan kelompok agar siswa sebanyak mungkin bergerak aktif sepanjang pelajaran. Bila peralatan yang ada terbatas jumlahnya, gunakan pendekatan stasion/learning centers, dan modifikasi aktivitas.

4. Mengelompokkan siswa
Guru perlu mengelompokkan siswa agar pembelajaran berlangsung secara efektif. Dengan pengelompokkan yang tepat siswa memiliki peluang melakukan aktivitas lebih banyak, bermain dengan jenjang kemampuan dan keterampilan yang seimbang.

5. Memanfaatkan ruang dan peralatan
Guru perlu merencanakan penjagaan dan pemanfaatan peralatan dan ruang secara efisien. Peralatan yang akan digunakan dalam pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik. Selain hal di atas, siswa perlu dibiasakan untuk ikut bertanggungjawab terhadap peralatan yang dipergunakan dalam pembelajaran.

6. Mengakhiri pelajaran
Setiap pertemuan pelajaran di dalam maupun di luar kelas harus diakhiri tepat waktunya dan diupayakan memberikan kesan mendalam bagi siswa. Dengan kesan yang baik, setiap episode pelajaran akan menjadi lebih bermanfaat dan bermankna. Dengan demikian, siswa akan selalu mengingat kegiatan yang dilakukan, dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan.


UNIT-UNIT OFFENSE DALAM PERMAINAN BOLA BASKET


ON THE BALL SCREEN
Pick and Roll
  • Offender 2 melakukan screen/ pick dan offender 1 melakukan dribble
  • Setelah defender 2 menjaga offender 1, segera offender 2 melakukan rol






Pick and Pop Out
  • Offender 2 melakukan pick, offender 1 melakukan dribble untuk membuka kesempatan
  • Offender 2 melakukan gerakan keluar/ pop out untuk melakukan shooting di luar





OFF THE BALL SCREEN

 
Down Screen
  • Offender 2 melakukan down screen
  • Offender 3 melakukan V cut lalu menggunakan screen untuk keluar menerima passing dari offender 1
  • Offender 2 melakukan roll ke arah ring



 
Back Screen
  • Offender 3 melakukan back screen
  • Offender 2 bergerak menggunakan screen dan siap menerima operan dari offender 1
  • Setelah back screen, offender 3 roll ke arah bola dan siap menerima operan dari offender 1



Cross Screen
  • Offender 2 melakukan cross screen
  • Offender 3 menggunakan screen dan bergerak minta bola
  • Offender 2 juga berbalik ke arah semula untuk minta bola





 
Curl
  • Offender 2 melakukan gerakan curl (memutar) ke offender 3, lalu keluar untuk meminta bola
  • Setelah offender 2 melakukan curl, offender 3 segera bergerak meminta bola



Double Screen
  • Offender 2 dan 3 melakukan double screen
  • Offender 4 melakukan V cut, lalu menggunakan screen dari kedua rekannya untuk menerima operan dari offender 1





Multiple Screen
  • Offender 3 melakukan down screen ke offender 4
  • Offender 4 melakukan V cut
  • Offender 2 melakukan down screen ke offender 4
  • Dengan menggunakan 2 buah screen dari rekannya (multiple screen), offender 4 keluar untuk menerima operan dari offender 1



Screen to Screener
  • Offender 4 melakukan back screen ke offender 3
  • Offender 4 mendapat down screen dari offender 2 (screen to screener)

Pengikut

 photo fiba_logo_quercopy_zps13231a28.png  photo PERBASI_Blog_zps95deb748.png
 photo HeadCoachBasketball_logoblog_zpsd965225e.png